Selayang Pandang Makroprudensial


Krisis global telah banyak memberikan pelajaran bahwa  kebijakan moneter tidak hanya melakukan penstabilan makroekonomi. Hal ini dikarenakan lebih banyak terjadi ketidakstabilan makroekonomi di sektor keuangan. Oleh sebab itu dalam mengendalikan stabilitas makroekonomi tidak hanya bagaimana mengendalikan kestabilan domestik maupun eksternal tetapi juga dengan menjaga kestabilan keuangan. Dalam kenyataan ini menenuntut adanya sinergisitas antara kebijakan makroprudensial dengan kebijakan moneter untuk mengurangi fluktuasi ekonomi yang berlebihan. Menurut Asisten Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, pihaknya akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial dalam menjaga stabilitas nilai rupiah dan mendukung stabilitas sistem keuangan.
Kebijakan moneter mampu mendukung stabilisasi dalam sistem keuangan dengan cara mempengaruhi kondisi keuangan dan perilaku di pasar keuangan. Transmisi kebijakan moneter melalui analisis neraca perusahaan dan perbankan juga akan berperan untuk menghadapi potensi ketidakstabilan sektor keuangan sedangkan kebijakan mekroprudensial yang didisain untuk mengatasi prosiklikalitas dalam perekonomian mendukung kebijakan moneter dalam mengendalikan stabilitas makroekonomi. Tujuan dari kebijakan makroprudensial adalah lebih mengarah pada  countercyclical akan dapat bersinergi baik dengan kebijakan moneter yang bertujuan untuk mengurangi fluktuasi ekonomi.
"Ada empat tantangan besar yang akan dihadapi BI di masa depan," menurut Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo di Gedung DPR. Tantangan yang  pertama, menganai laju inflasi dari Januari-Februari 2013 sudah mencapai 1,79%. Karena Angka tersebut, dianggap lebih tinggi dari rata-rata historis 5 tahun terakhir 1,28%, namun laju inflasi inti tetap stabil di angka 0,66%. Tantangan yang Kedua adalah fluktuasi harga energi dan pangan, kondisi ini dikhawatirkan dapat mengancam kestabilan pangan Indonesia ke depan.  Tantangan ketiga yang bakal dihadapi BI adalah Pelemahan permintaan dunia, karena kondisi ekonomi global yang belum membaik ikut menyusutkan ekspor Indonesia. Dan yang keempat, adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi negara maju, seperti Eropa dan Amerika Serikat (AS) sehingga berpotensi menimbulkan terjadinya penggelembungan aset (asset bubble).
Sehingga perlu strategi dalam penguatan kerangka kebijakan moneter yang bertujuan untuk menjaga kestabilan harga diimbangi dengan nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya, baik melalui strategi bauran kebijakan antara kebijakan makroprudensial dan kebijakan moneter dengan instrument suku bunga, nilai tukar, dan makroprudensial. Serta strategi dalam peningkatan efektifitas koordinasi dan sinergi kebijakan moneter dengan otoritas fiscal dan sector riil dalam mengendalikan inflasi memalui pengendalian inflasi melaui Tim Pengendali Inflasi (TPI) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Dan juga strategi pencapaian stabilitas harga seiring volatilitas nilai tukar yang terjaga, cadangan devisa (cadev) yang cukup, serta capital flows yang dikelola dengan baik.

Share this post :

Poskan Komentar

Test Sidebar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Eccents - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger